#9 [Reflektif] Lepaskan Kepalanmu

Posted: Juni 22, 2010 in Uncategorized

Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet .

Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.

Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.

Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!” Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!” Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.

**********************************

Kisah di atas sangat mencerminkan perkara yang tersulit dalam hidup seorang manusia: IKHLAS. Entah benar atau tidak, tetapi kita tidak dapat menyangkal bila ikhlas itu adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Saya pun baru sadar, untuk ikhlas saya harus belajar. Ya, belajar. Belajar Ikhlas.

Ada banyak yang merasa frustasi dan depresi akibat kehilangan yang tak dapat diterima, nasib yang selalu malang, serta berbagai kejadian yang dianggap tidak pantas untuk dilaluinya. Dari sikap frustasi karena tidak dapat menerima kenyataan tersebut banyak juga yang menimbulkan rasa amarah, dendam dan benci yang tidak berkesudahan. Padahal jika diibaratkan, rasa amarah yang menimbulkan rasa dendam dan benci itu seperti kita yang meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati. Sangat tidak berguna. Jika sudah seperti itu, untuk ikhlas menjadi satu hal yang sangat mustahil untuk dilakukan.

Kesulitan untuk mengikhlaskan hati memang wajar sebagai manusia yang masih mengedepankan kemanusiaan kita dalam setiap langkah. Namun celakanya, kewajaran itu menghasilkan sikap-sikap negatif lainnya yang tidak wajar bahkan mengarah kepada kepahitan hidup. Akhirnya ketidakikhlasan itu jugalah yang membuat hidup menjadi tidak nyaman.

Kunci keikhlasan memang hanyalah satu : mengutamakan satu sikap ketidakmelekatan terhadap apapun yang ada di dunia. Artinya semua yang kita alami dan lakukan memang demi kehidupan akhirat semata. Kita tidak terikat kepada siapapun kecuali terikat kepada-Nya. Dalam hal ini berarti keluarga, harta, prestasi, adalah milik-Nya yang dapat diambil-Nya kapanpun. Ketidakmelekatan membuat kita siap dan ikhlas untuk menerima bahwa Tuhan terlebih cinta kepada orang-orang yang juga kita kasihi. Kita juga siap menerima bila harus melepas atau tidak memperoleh sesuatu. Tetapi memang banyak yang mengeluh rumit untuk dilaksanakan.

Saya belajar banyak hal mengenai hidup, dimana salah seorang teman saya mengatakan, “Jangan kita terlalu mencintai seseorang, karena dengan semakin cintanya kita terhadap seseorang, maka sangat mudahlah bagi kita untuk membencinya”. Masuk akal, dan saya telah mengalaminya. Kemudian saya juga memperoleh sebuah pelajaran dari seorang guru, “Sah-sah saja memiliki impian dan cita-cita yang tinggi, tetapi janganlah kita terlalu mengharapkan agar bisa mencapai impian dan cita-cita yang tinggi itu, karena pada saat kita gagal mencapai impian dan cita-cita itu dan terjatuh, akan terasa luar biasa sakitnya.”

Kunci keikhlasan itu tadi akhirnya menyimpulkan bila sesungguhnya manusia itu memang bukan makhluk yang bisa mengikhlaskan diri begitu saja. Ada jenis manusia yang memiliki kategori ekstra yang mampu belajar untuk ikhlas, yaitu manusia yang membiarkan Tuhan menjadi pengatur langkah dan pemimpin laku hidup. Kategori orang yang seperti inilah yang mampu belajar untuk ikhlas.

Percaya pada kekuasaan Tuhan yang absolut sejatinya membuat keikhlasan itu adalah satu bentuk iman terhadap pengaturan Tuhan dalam hidup kita. Keikhlasan memiliki sisi futuristik yang amat dahsyat bila dilakukan, sebaliknya sikap ketidakikhlasan berarti kita sudah menutup rencana-Nya serta anugerah-Nya.

*********************

Yak, kembali lagi ke si monyet.

bagaimana bila si monyet tadi mengikuti saran si monyet tua? Si monyet muda tersebut akhirnya menurut untuk melepaskan kepalannya sekaligus merelakan kacang itu tidak terambil olehnya. Monyet muda itu akhirnya berlari kencang menjauhi pemburu. Ia menjadi terengah-engah dan menangis karena sudah melepaskan apa yang diharapkan dan disukainya tadi. Setelah habis air matanya, akhirnya ia baru menyadari setelah melihat sekelilingnya. Ternyata ia sedang berada di kebun kacang yang luas.

Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Bisa jadi kita diberi rasa sakit, agar kita menjadi lebih kuat, dan lebih mensyukuri nikmatNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s