#2 Masihkah berharga sebuah MEMORI itu? (review film: Eternal Sunshine of the Spotless Mind)

Posted: April 13, 2010 in Uncategorized

I’m Fine Without You. Kata2 itulah yang saya baca dari salah satu poster film ini. Film ini dibintangi Jim Carrey, Kate Winslet, Kirsten Dunst, ama Elijah Wood. Kesan pertama ketika nonton film ini adalah: saya kira film ini bajakan sodara2!! Tapi setelah ditelusuri, emang ternyata secara pengambilan gambar ‘ajaib’ menurut saya. Ide film dan ceritanya sendiri lumayan menusuk hati  walaupun saya harus beberapa kali menontonnya supaya paham dg ceritanya.
Jadi pertanyaan yang muncul dari film ini adalah seberapa besar sebenarnya harga dari sebuah MEMORI? Jika ada orang yang memberikan jasa menghapus seseorang dari pikiran kita, bersediakah kita untuk melakukannya?
Film ini bercerita tentang Joel (Jim Carrey) yang mendadak menemukan bahwa pacarnya, Clementine (Kate Winslett) tiba-tiba begitu saja melupakan dirinya. Joel dilihat seperti orang lain, dan Clem tidak lagi mengenali dia. Tentu saja, ini menimbulkan kegalauan tersendiri, bagaimana mungkin seseorang yang kemarin begitu mencintai kita, lalu kemudian mendadak sama sekali lupa dengan kita?
Pertanyaan ini terjawab dengan satu kiriman berita dari suatu penyedia jasa, dipimpin Dr. Howard Mierzwaik(Tom Wilkinson), yang bersama krunya Mary(Kirsten Dunst), Stan(Mark Ruffalo), dan Patrick (Elijah Wood), yang memberikan layanan penghapusan ingatan manusia tentang seseorang. Badan ini mengabarkan kepada Joel, bahwa Clem telah memutuskan untuk menghapus Joel dari ingatannya.
Marah dengan kenyataan tersebut, Joel mendatangi Howard dan meminta agar dia pun menjalani proses yang sama, menghapuskan Clem dari ingatannya sama sekali. Akan tetapi saat proses penghapusan ini berjalan, dan perlahan-lahan memori-memori tentang Clem satu per satu hilang dari ingatannya, Joel malah menemukan kembali bahwa sesungguhnya dia benar-benar mencintai Clem dan tidak ingin menghapus kenangan tentangnya. Dalam tekanan proses penghapusan itu, Joel berusaha membatalkan proses penghapusan memori itu..
Terlepas dari persoalan teknis bagaimana prosedur penghapusan itu dilakukan, ide ceritanya sendiri menurut saya sangat brilian. Secara pribadi saya yakin, bahwa kalau saja saya mampu memberikan jasa penghapusan memori tentang seseorang, bisa jadi ini akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan . Berapa banyak dari kita menghabiskan sekian banyak waktu, tenaga, dan materi, untuk menghapuskan seseorang yang pernah dan masih menyita pikiran kita? Bukankah itu suatu pasar yang sangat potensial? He he he…
Kembali ke pertanyaan, seberapa besar sesungguhnya arti dari sebuah kenangan? Dan apakah dengan menghapuskan kenangan, maka lantas persoalan menjadi terselesaikan? Menonton film ini, seperti menyimak sebuah cerita tentang bagaimana kenang-kenangan tidak sekedar titik-titik tertentu dari otak kita, yang bisa dihapus sedemikian rupa. Saya yakin, walaupun luka bisa disembuhkan oleh waktu, tapi kenangan, apaun itu akan sangat sulit terhapus dari ingatan kita, kecuali emang ada jasa untuk menghapus memori seseorang.

Hanya itu saja? Tidak. Saya akan bercerita sedikit. Berawal dari kekasih saya (KEKASIH bukan PACAR), untuk mempermudah, marilah kita sebut dia ‘Damn Girl’. Mengapa ‘Damn Girl’? karena nama itulah yang terlintas di pikiran saya jika teringat dengannya.
Damn Girl, yang tiba2 saja berubah sikap, dari mencintai saya kemudian entah mengapa dalam sekejap mendadak hilang rasa sayangnya terhadap saya. Gimana gak sakit hati, ketika si Damn Girl, yang sudah 3 tahun bersama saya, ternyata tidak bahagia dengan saya, dan memilih kebahagiaannya SENDIRI dengan orang lain. Bagaimana tidak sakit hati, ketika saya sangat amat membutuhkan si Damn Girl, dia lebih focus sama orang lain supaya dia bahagia SENDIRI. Sangat amat sakit, ketika itu. Ya walaupun itu adalah hak si Damn Girl, tapi mbok ya ngaca dulu, ada orang lain yang tidak bahagia dengan kebahagiaan si Damn Girl. Waktu itu memang saya sangat ingin menghapus ingatan saya tentangnya, tapi saya sadar, buat apa? Ternyata hanya akan semakin membuat saya semakin sakit, karena saya ternyata juga masih sangat menyayanginya. Setelah waktu berlalu, berkat usaha saya sendiri juga dukungan dari orang2 terdekat saya, perlahan saya mulai bias menerima kenyataan. Saya bisa mulai tegar, walaupun kadang2 masih kepikiran (KEPIKIRAN bukan MEMIKIRKAN) dan membuat saya jatuh lagi. Ternyata ada satu kuncinya, IKHLAS. Ya, dengan ikhlas, saya yakin Allah mempunyai rencana besar buat saya, dan akan memberikan yang terbaik buat saya. Allah pasti memberikan yang jauh lebih baik dari si Damn Girl. Allah menyediakan cinta melebihi quota. Saya yakin karma itu pasti ada, dan saya mulai berpikir, mungkin saya pantas mendapatkan ini semua. Saya hanya berusaha ikhlas saja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s